IPUH – Aksi penyitaan telepon genggam yang dilakukan oknum guru di SMAN 02 Ipuh menuai sorotan dan keluhan dari sejumlah wali murid. Penyitaan dilakukan secara diam-diam dari dalam tas siswa ketika mereka sedang mengikuti kegiatan senam di lapangan sekolah. Orang tua siswa menilai tindakan tersebut tidak hanya tidak etis, tetapi juga menyerupai tindakan pencurian dan melanggar privasi.
Salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa anaknya kehilangan HP setelah pulang sekolah. Belakangan diketahui bahwa telepon genggam itu diambil guru dari dalam tas tanpa pemberitahuan.
“Diambil diam-diam dari dalam tas ketika anak saya sedang senam di lapangan. Kami sudah meminta HP tersebut ke guru, tapi tidak diberikan. Ini jelas melanggar etika dan privasi anak kami,” ujarnya.
Pihak sekolah kemudian memberikan klarifikasi, melalui guru perwakilan sekolah, Trisno. Ia membenarkan adanya penyitaan HP yang dilakukan oleh pihak sekolah.
“Ya, benar ada penyitaan yang dilakukan oleh pihak sekolah. Tindakan ini di ambil menjelang ujian sekolah,Mengenai penyitaan sudah kami sampaikan kepada murid dan wali murid dari awal siswa tersebut masuk bersekolah di SMAN 02 ini,” kata Trisno.
Trisno juga menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah meminta sandi HP, membuka galeri, atau mengakses privasi siswa.
“Kami hanya menahan HP sesuai dengan peraturan yang ada di sekolah. Tidak ada pelanggaran privasi seperti membuka file atau meminta sandi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa aturan penggunaan HP di lingkungan sekolah telah lama disosialisasikan kepada siswa sebagai bagian dari penegakan disiplin.
Meski demikian, sejumlah wali murid berharap prosedur penyitaan tidak dilakukan secara diam-diam, melainkan diberitahukan langsung kepada anak maupun orang tua agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan keresahan.(*)













